Print this page

Deklarasi “Stop Bullying” di SMPN 1 Tinggimoncong

Kegiatan Deklarasi “Stop Bullying” SMPN 1 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. (Foto : Uci). Kegiatan Deklarasi “Stop Bullying” SMPN 1 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. (Foto : Uci).
 

Penulis : Uci  /  Editor : Ahmad Imron

Tinggimoncong, Gowa, Sulsel (Phinisinews.com) - SMP Negeri 1 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 70 kilometer dari Makassar,  mendeklarasikan anti bullying (intimidasi) dan menghentikan kekerasan.

Deklarasi dilakukan di lapangan upacara dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Kamis,  di sela-sela Pelaksanaan penilaian akhir tahun 2022 dengan tema ”Profil Pelajar Pancasila anti bullying di sekolah”.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan nilai positif kepada seluruh warga sekolah agar tercipta lingkungan sekolah yang ramah,aman dan nyaman antar Peserta Didik.

Kepala SMPN 1 Tinggimoncong, Syafruddin, SPd, MSi mengatakan, tujuan kegiatan deklarasi Anti Bullying adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap peran teman sebaya sehingga terbentuknya Komunitas Ambassador Anti Bullying pada peserta didik.

Selain itu, terbentuk program Anti Bullying yang terintegrasi ke dalam program OSIS SMPN 1 Tinggimoncong dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Bentuk tindakan bullying dapat berupa hinaan, cacian, celaan, meremehkan dan merendahkan, baik berupa kata-kata maupun perbuatan agar dapat dihindari dan ditinggalkan oleh setiap komponen di Satuan Pendidikan SMPN 1 Tinggimoncong, baik peserta didik maupun Guru dan Tenaga Kependidikan maka “Kami prihatin dengan maraknya bullying yang hadir di lingkungan beberapa sekolah.

Mungkin awalnya pihak pelaku tidak menyadari bahwa yang dilakukannya hanya gurauan. Namun tidak menutup kemungkinan jika gurauan tersebut termasuk bullying, bahkan tindak kekerasan di antara Peserta didik di Sekolah.

Deklarasi ini adalah antisipasi yang pihak sekolah lakukan sebagai bentuk pengawasan demi menjaga suasana kondusif di lingkungan sekolah,”

Sebab, akhir-akhir ini kondisi  bully  di tingkat sekolah di Nusantara ini semakin mengarah pada tindakan kekerasan yang dilakukan pada urusan hukum. Pastikan hal ini menjadi perhatian semua pihak karena masalah ini juga menjadi salah satu sorotan dalam penilaian PISA ( Program for International Student Assessment).

Sekolah harus memberikan perhatian tersendiri dalam Pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dimulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi salah satu kunci dalam memerangi terjadinya bully .

Sekolah harus ikut membuat kurikulum anti bully Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri sudah memberikan kebebasan bagi sekolah dalam menentukan kurikulumnya.

Wakasek Urusan Kesiswaaan,  Porade, SPd, mengatakan agar kepada Seluruh komponen, siswa dapat berhati-hati menggunakan Media Sosial apalagi menyinggung bahkan menyakiti hati sesama siswa.

Wakasek Urusan Kurikulum, Rusdi, SPd, MSi, menyampaikan bahwa salah satu bentuk bullying dalam bentuk hinaan dan cacian yang terkadang sangat mudah dilakukan oleh siswa melalui Media Sosial olehnya Stop Bullying.

Guru PPKn SMPN 1 Tinggimoncong, H Lamappa, SPd, MSi, menyatakan kegiatan Deklarasi Stop Bullying  memiliki makna dalam mewujudkan generasi yang memiliki Jiwa Profil Pelajar Pancasila.

Di sela kegiatan, beberapa siswa yang memberikan pesan yakni Nur Ilmi Kirana Kelas 8.1 mengharapkan semoga dengan Kegiatan Deklarasi Stop Bullying di SMPN 1 Tinggimoncong tidak terjadi bullying, baik fisik maupun non fisik . Siwa lainnya, Zulkarnain Darma Kelas 8.1 mengajak mari kita komitmen Stop Bullying. (Uci/AI).

Read 147 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Citizen Journalism
Phinisi News

Latest from Phinisi News

Login to post comments