Simak juga
Ruwat Mata Air, Rawat Bumi Lestari - Saturday, 29 July 2017 15:15
Malam Award KPID Sulawesi Selatan - Saturday, 03 December 2016 21:39
Nikmati Keindahan Makassar Sky Line City View - Tuesday, 15 November 2016 12:34
Pemuda Sehat Pemuda Berdaulat - Friday, 28 October 2016 11:10
Aksi Teaterikal Sumpah Pemuda Unismuh - Friday, 28 October 2016 09:41
Dg. Ical : Mengaku Pemuda Tapi Tak Komitmen - Thursday, 27 October 2016 18:55
Dua Wakil Deklarasi Anti Narkoba - Thursday, 27 October 2016 17:34
Ilmu Komunikasi UIT Kunjungi Media - Thursday, 27 October 2016 13:42

Mataram, 28/2 (Phinisinews) - Lingkaran batok kepala bayi laki-laki yang bagaikan tinggal tulang dan kulit itu, tampak lebih besar dibandingkan sosok tubuhnya. Bola mata cekung, rambut pirang dan tipis, serta nyaris tak banyak dapat menggerakkan organ tubuhnya.

Usia sang bayi yang menetap di Desa Buwun, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, itu tercatat telah lebih dari lima tahun, namun belum juga bisa berdiri, apalagi harus berlari-lari lincah seperti kebanyakan bayi seusianya.

Rizwan, demikian panggilan sang bayi, sesekali tampak merengek di pangkuan ibu kandungnya Ny Anisah (25), sembari mengepal sepotong singkong bakar yang berkali-kali dicoba dimasukkan ke dalam mulutnya dengan tangan yang tampak lunglai dan lemas.

Ny Anisah yang bersuamikan Marsidin (31), buruh pada sebuah pabrik batako, mengakui kalau anak semata wayangnya yang lahir prematur dalam usia kandungan tujuh bulan itu, sejak lahir kondisinya sudah kurang normal, dan terlihat begitu kurus dan lemas sejak menginjak umur satu tahun.

"Lihat pak, ngangkat sepotong singkong di tangan pun nyaris tidak kuat," ujar Ny Anisah sambil memperlihatkan sosok bayi yang terbaring di pangkuannya.

Keluarga sang bayi mengaku tidak bisa membawa Rizwan ke rumah sakit, sehubungan dengan tidak adanya biaya. "Boro-boro untuk berobat, untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup," ujar Ny Anisah, terbata-bata.

Rizwan, tercatat sebagai salah seorang dari ratusan penderita gizi buruk yang terdata di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Celakanya, dari penderita sebanyak itu, puluhan di antaranya diketahui tidak bisa diselamatkan, alias tidak tertolong jiwanya.

Pada 2011, misalnya, sebanyak 12 pasien gizi buruk yang disertai penyakit ikutan, meninggal dunia. Tahun berikutnya (2012), 13 penderita tak tertolong jiwanya. "Syukur tahun ini belum ada," ucap Wakil Direktur Pelayanan RSUP NTB dr Lalu Ahmadi Jaya di Mataram.

Ia mengatakan, sebanyak 12 orang yang meninggal dunia itu merupakan bagian dari 72 pasien gizi buruk disertai penyakit ikutan yang menjalani perawatan di RSUP NTB sepanjang 2011. Sedangkan yang 13 orang merupakan bagian dari 93 pasien gizi buruk yang menjalani perawatan pada 2012.

Untuk tahun ini, sejak Januari hingga akhir Februari, tercatat 11 pasien gizi buruk disertai penyakit ikutan yang sempat dirawat di RSUP NTB. Dari jumlah itu, empat di antraranya kini masih dirawat inap.

Empat pasien yang masih dirawat itu, tutur Ahmadi merupakan penderita yang dirujuk dari rumah sakit kabupaten dan puskesmas.

Mereka adalah, Johan Resi (13 bulan), menderita gizi buruk disertai gejala klinis kurang berat badan, Ega Epriyani (18 bulan), gizi buruk disertai kelainan jantung dan penyakit bawaan lainnya. Zulfi (12 bulan) gizi buruk disertai gejala gagal tumbuh dan anemia, serta Erna Murniati (3 bulan) dengan gejala klinis marasmus disertai palatoskisis (tidak mempunyai langit-langit mulut).

Menurut Ahmadi, pasien gizi buruk yang dirujuk ke RSUP NTB umumnya juga menderita peyakit bawaan, bahkan komplikasi penyakit, sehingga masa pemulihan kondisi kesehatannya cukup rumit, hingga tidak jarang meninggal dunia.

"Dengan demikian, bukan hanya gejala klinis gizi buruk, tetapi juga beragam penyakit ikutan, sehingga penanganan medisnya pun harus diawali dengan pemulihan kondisi, baru pengobatan penyakitnya," ujar Ahmadi.

Gejala klinis gizi buruk, badan kurus, dan wajah terlihat lebih tua dari usia yang menunjukkan gejala kekurangan karbohidrat (marasmus), serta adanya komplikasi penyakit kronis seperti kelainan penglihatan, dan gangguan pernapasan.

Sementara penyakit ikutannya antara lain berat badan tidak normal, terindentifikasi menderita kelainan di lapisan paru yang mengarah ke TBC, gangguan jantung, hydrocephalus (kepala membesar), gejala TBC, serta terinfeksi beberapa bibit penyakit.

Menyinggung biaya perawatan, Ahmadi menyebutkan, biaya pelayanan medis untuk para pasien gizi buruk dengan komplikasi beragam penyakit, dibebankan kepada Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), sehingga terlayani secara gratis.

"Tentu kondisi pasien seperti itu erat kaitannya dengan pola asupan gizi, dan perhatian terhadap kondisi kesehatan balita. Biasanya setelah penyakit bawaan mencuat, baru dibawa ke puskesmas hingga dirujuk ke RSUP NTB, sehingga penanganan menjadi cukup terlambat," ujar Ahmadi, didampingi dr Dewi Sangawati SPA, dokter ahli anak yang menangani pasien gizi buruk di RSUP NTB.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB mengklaim, kasus gizi buruk antara lain terjadi akibat tingkat kesadaran para pengasuh anak dan balita yang belum menyeluruh tentang pentingnya peranan gizi.


Kurang asupan gizi
"Kasus gizi buruk di NTB umumnya karena kurangnya asupan gizi di kalangan balita dan anak-anak, dan hal ini erat kaitannya dengan SDM orang tua anak, di samping tingkat kesejahteraan keluarga," tukas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr Moch Ismail di Mataram.

Ia mengemukakan, kurangnya asupan gizi akan mengarah kepada gizi buruk jika tidak segera ditangani secara baik. Apalagi, balita dan anak-anak yang kurang gizi juga diserang penyakit.

Karena itu, kesadaran pengasuh anak dan balita merupakan hal yang amat penting, selain pengetahuan tentang gejala klinis gizi buruk.

Gejala klinis gizi buruk antara lain badan kurus, wajah terlihat lebih tua dari usia bayi, yang menunjukkan gejala kekurangan karbohidrat (marasmus), serta adanya komplikasi penyakit kronis seperti kelainan penglihatan, dan gangguan pernapasan.

"Itu sebabnya, pemerintah terus berupaya mengintervensi permasalahan tersebut yang mengarah kepada pemberian makanan bergizi, sekaligus penyembuhan penyakit yang diderita si pasien," ujarnya.

Menurut Ismail, salah satu program penanganan gizi buruk secara terpadu, ialah dilakukannya gerakan makan bergizi seimbang yang merupakan penyempurnaan dari kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan menyusui serta balita.

Gerakan makan bergizi seimbang itu juga diterapkan di sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), selain program peningkatan derajat kesehatan balita dan anak-anak melalui posyandu dan puskesmas.

"Intervensi memang harus terus ditingkatkan, selain mendorong perubahan tingkat kesadaran pengasuh anak dan balita di masyarakat," ucapnya.

Ismail tidak menampik kalau kasus gizi buruk di wilayah NTB masih cukup banyak, namun ia memastikan kasus tersebut belum sampai tahapan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Belakangan ini, kasus gizi buruk atau malnutrisi mencuat setiap tahun, namun belum dikategori KLB karena jumlah pasiennya masih tergolong sedikit jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Versi Dinas Kesehatan Provinsi NTB, kasus gizi buruk sudah mencuat di wilayah NTB sejak 2000, dan sejak 2001 prevalensi penderita pada balita justru menunjukkan kecenderungan meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 2001 masih sebesar 3,73 persen, selanjutnya pada 2002 prevalensi gizi buruk anak balita sebesar 4,15 persen, pada 2003 sempat turun menjadi 3,31 persen, namun naik lagi pada 2004 menjadi 4,09 persen.

Tahun 2005 meningkat secara tajam menjadi 6,58 persen, sehingga dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus gizi buruk dengan jumlah kasus sebanyak 3.950, yang 2.185 di antaranya terungkap kasus non-klinis.

Prevalensi gizi buruk di NTB pada 2006 hingga beberapa tahun kemudian termasuk 2007 mengalami penurunan, namun masih terus bermunculan di sejumlah daerah.

Pada 2008 kasus gizi bermasalah yang ditemukan tercatat 1.207 kasus, dan setelah ditangani sebanyak 892 orang penderita sudah membaik. Sisanya sebanyak 270 orang, termasuk 23 di antaranya merupakan kasus klinis atau busung lapar.

Jumlah penderita gizi buruk selama 2008 sebanyak 1.207 orang, yang 45 di antaranya tak terhasil ditolong jiwannya. Dari penderita sebanyak itu, 466 di antaranya merupakan kasus klinis dan 471 kasus non-klinis.

Pada 2009 tercatat lebih dari 600 kasus gizi buruk yang pada umumnya menimpa balita, dan 31 kasus di antaranya berujung kematian. Kasus gizi buruk pada 2010 nisbi sama dengan 2009.

Selanjutnya berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) 2011, terjadi penurunan kasus gizi buruk dari 4,77 persen di 2010 menjadi 4,57 persen di 2011. Prevalensi stunting (pendek) turun dari 42,63 persen di 2010 menjadi 40,55 persen di 2011. Sementara prevalensi wasting (kurus) turun dari 12,02 persen di 2010 menjadi 10,76 persen di 2011.

Tahun 2012, juga dilaporkan terjadi penurunan kasus gizi buruk yang mencapai 1.092 kasus di 2011 menjadi 507 kasus di 2012. Dari kasus sebanyak itu, 20 pasien meninggal dunia, terdiri atas 17 pasien akibat komplikasi berbagai penyakit, dan tiga kasus murni akibat gizi buruk.

"Dengan demikian, kasus gizi buruk di 2012 di wilayah NTB relatif sedikit jika dibandingkan dengan kasus 2008 dan 2009, bahkan cenderung menurun. Kami harapkan, tahun ini pun terjadi penurunan yang berarti," ujarnya, menjelaskan.

(Sumber: Yanes Setat)
Read 824 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Feature
Login to post comments
  • Dokter News
  • Citizen Journalism

Galleries

 
Phinisinews, Kian tergerusnya nilai dan tradisi lokal dalam gaya berbusana masyarakat agaknya menimbulkan kegelisahan...
Penulis : Nurjannah   Makassar - Phinisinews, Penghargaan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Award tahun 2016...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, PT. Pertamina (Persero) menantang technopreneur muda beradu inovasi ...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar gelar Seminar...

Get connected with Us