Simak juga
Medsos Mudahkan Kerja Wartawan - Tuesday, 08 January 2019 08:42
Ruwat Mata Air, Rawat Bumi Lestari - Saturday, 29 July 2017 15:15
Malam Award KPID Sulawesi Selatan - Saturday, 03 December 2016 21:39
Nikmati Keindahan Makassar Sky Line City View - Tuesday, 15 November 2016 12:34
Pemuda Sehat Pemuda Berdaulat - Friday, 28 October 2016 11:10
Aksi Teaterikal Sumpah Pemuda Unismuh - Friday, 28 October 2016 09:41

Agama Juga Sensor yang Ditakuti di Dunia Seni

  • Wednesday, Nov 04 2015
  • Written by  Phinisinews - CNN
Ilustrasi buku. (Dok. Ubud Writers & Readers Festival/Anggara Mahendra) Ilustrasi buku. (Dok. Ubud Writers & Readers Festival/Anggara Mahendra)

Phinisinews - Seperti yang terjadi pada diskusi-diskusi bertema sensitif, sensor juga ternyata masih dirasakan membekap dunia penerbitan. Itu diakui salah satu penulis Indonesia, Okky Madasari saat berbincang di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015.

Lebih dari sekali bagian novelnya terpaksa direvisi karena permintaan penerbit. Yang Okky alami, sensor itu biasanya terkait agama. Penerbit ingin memastikan novelnya tidak menyinggung kelompok agama, yang di Indonesia bisa bertindak sangat ekstrem.

"Masih ada ketakutan pada isu-isu yang menyentuh grup radikal, yang dianggap akan menghina umat Islam. Kenapa? Karena si kelompok Islam bisa langsung menghancurkan toko buku, bisa mengintimidasi, melakukan kekerasan, tanpa melalui proses hukum," ujar Okky di UWRF 2015, beberapa waktu lalu. Dilansir dari CNN Indonesia.

Dua kali novelnya harus direvisi karena menyangkut isu itu, Okky akhirnya memilih setuju setelah diskusi panjang. "Saya tahu kita tidak boleh menoleransi, tapi itu butuh waktu, tidak bisa instan," katanya.

Penulis Pasung Jiwa itu menjelaskan, kebanyakan orang Indonesia masih dikuasai ketakutan, termasuk pada isu politik maupun agama, karena selama ini sudah terlalu lama hidup di bawah ketakutan. "Selama 32 tahun kita dibentuk untuk takut, dididik untuk takut dan tunduk," ujar Okky berpendapat.

Namun menurutnya, porsi kemarahan tidak tepat jika dilimpahkan kepada penerbit yang menyensor atau panitia UWRF 2015 yang memutuskan membatalkan sesi-sesi sensitif.

"Yang harus kita lakukan adalah, marah pada polisi, karena mereka seharusnya mengambil tindakan hukum, ini malah membiarkan. Selama polisi tidak melakukan apa-apa, itu akan terus terjadi," ucap Okky menegaskan.

Selain itu, polisi sendiri juga harus berhenti melakukan sensor, misalnya melarang diskusi-diskusi bertema sensitif seperti sesi 1965 di UWRF 2015. "Musuh kita sekarang adalah pelaku sensor, bisa dikatakan ada dua: negara dan aparat-aparatnya, dan kelompok agama fundamental."

Read 283 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Hiburan Dan Pariwisata
Login to post comments
  • Dokter News
  • Citizen Journalism

Galleries

 
 Penulis : Mitha Kuen   Makassar, (Phinisinews.com) - Asesor Jurnal Kemenristek Dikti, Irwansyah menyatakan "7400...
Penulis : Achmad Imron     Makassar (Phinisinews.com) – Ketua Dewan Kehormatan DPP Perserikatan Journalist Siber...
  Penulis : Mitha K / Release Mas'ud Ibnu Syamsuri      Phinisinews - Jakarta, BAZNAS menerima Global Good...
Penulis : Ahmad Imron Sungguminasa, Sulsel, (Phinisinews.com) – Idealnya kontrol sosial dan kontrol media berjalan...

Get connected with Us