Simak juga
Ruwat Mata Air, Rawat Bumi Lestari - Saturday, 29 July 2017 15:15
Malam Award KPID Sulawesi Selatan - Saturday, 03 December 2016 21:39
Nikmati Keindahan Makassar Sky Line City View - Tuesday, 15 November 2016 12:34
Pemuda Sehat Pemuda Berdaulat - Friday, 28 October 2016 11:10
Aksi Teaterikal Sumpah Pemuda Unismuh - Friday, 28 October 2016 09:41
Dg. Ical : Mengaku Pemuda Tapi Tak Komitmen - Thursday, 27 October 2016 18:55
Dua Wakil Deklarasi Anti Narkoba - Thursday, 27 October 2016 17:34
Ilmu Komunikasi UIT Kunjungi Media - Thursday, 27 October 2016 13:42

Memasuki dasawarsa 1990, wartawan di sejumlah kantor berita transnasional, terutama Reuters dari Inggris, AFP dari Perancis, DPA dari Jerman, dan AP dari Amerika Serikat, menghadapi kecenderungan baru, yakni mereka lebih dituntut untuk memahami sekaligus menguasai teknologi informasi, lebih beretika, serta tidak meninggalkan logika dalam menjalankan tugasnya.

Kecenderungan baru itu, bagi wartawan, hadirnya berbarengan dengan kemajuan teknologi informasi jaringan komputer kesejagatan yang kemudian dikenal dengan nama Internet  alias Cyber-Space alias Superhighway.

Berangkat dari pendekatan keilmuan, teknologi informasi berbasis Internet bukanlah hal baru. Nobert Wiener, matematikawan dari Amerika Serikat, pada tahun 1948 sempat  mengemukakan teori tentang Cybernetics (sibernetika) yang beramsumsi bahwa sekumpulan mesin yang saling terkoneksi memiliki tingkat komunikasi seperti halnya makhluk hidup. Bahkan, mereka dihubungkan oleh sejumlah jaringan elektronik dan mekanik yang berfungsi interaktif sebagaimana urat syaraf.

Pendapat Wiener (1884-1964) langsung mendapat banyak cemoohan dari pakar komunikasi. Beberapa di antara mereka menilai, Wiener terlalu berlebihan menempatkan fungsi alat
elektronik dan mekanik setingkat dengan makhluk hidup. Ada pula yang berpendapat, "Apakah Wiener ingin menjadi Tuhan? Dan, ia menganggap dirinya sebagai pencipta
makhluk yang bernama mesin elektronik dan mekanik."

Oleh karena itu, teori Wiener tentang sibernetika sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama. Banyak pakar komunikasi enggan memahami paham tersebut, atau bisa jadi
mereka justru tidak pernah mendengar dan mengetahui tentang sibernetika.

Syukurlah, Webster dalam sejumlah kamusnya -seperti Dictionary of People dan Dictionary and Thesaurus-tidak pernah melupakan nama Nobert Wiener sebagai penemu Cybernetics yang diterjemahkan sebagai studi perbandingan dari komunikasi otomatis dan menekankan fungsi pengawasan dari kehidupan tubuh secara mekanis, serta didukung sistem elektronik.

Anehnya, pendapat Wiener justru banyak mendapat perhatian sejumlah pakar di Rusia yang antara lain dipelopori oleh Vladimir Talmy yang bukunya diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Yelena Saparina dengan titel Cybernetics Within Us terbitan Peace Publisher Moscow, 1952.

Vladimir Talmy berpendapat, sibernetika setidak-tidaknya memerlukan pemahaman dari lima sudut keilmuan, yaitu matematika, logika (filsafat), biologi, komunikasi, dan sistem pengawasan otomatis (fisika).

Dalam proses menyiapkan bukunya, Talmy banyak mewawancarai orang sebagai contoh penelitian pemahaman tentang sibernetika. Akhirnya, ia berasumsi bahwa di antara kalangan akademisi tua dan muda secara umum memiliki pendapat yang sama tentang sibernetika sebagai sibernetika rekayasa (engineering cybernetics) dan sibernetika biologis (biological cybernetics).

Pada perkembangannya kemudian, sejumlah pakar sibernetika di Rusia -kala masih tergabung dalam Uni Soviet-banyak melakukan penelitian tentang aspek komunikasi
mesin berurat-syaraf dengan memadukan lima keilmuan seperti dikemukakan Vladimir Talmy. Bahkan, dua pendekatan itulah yang menjadi bagian dalam konsep dasar Sputnik
alias satelit telekomunikasi pertama Uni Soviet (dan juga dunia) pada tahun 1957.

Di belahan bumi lainnya, Amerika Serikat yang tidak mau kehilangan muka terhadap kemajuan sistem satelit telekomunikasi Uni Soviet -karena saat itu terjadi Perang Dingin blok Timur dengan blok Barat-langsung membangun jaringan Advanced Research Project Agency (ARPA), yang kemudian berkembang menjadi ARPANet dengan dukungan Departemen Pertahanan.

ARPANet itulah yang menjadi cikal bakal sistem Internet alias sistem jaringan komputer terhubung secara global. Secara mudah, Internet dapat diterjemahkan pula sebagai sekumpulan komputer ibarat urat syaraf manusia. Internet memiliki sistem yang disebut tulang punggung (backbone) yang terhubung dalam satu jaringan sederhana/ringkas menuju bagian terpadu di Internet Service Provider (ISP) alias agen layanan penjualan akses nama dan kode menuju jaringan yang lebih luas lagi.

Karena sistemnya yang saling silang dengan bantuan saluran telepon dan modem -alat pengubah sinyal timbal balik dari pesan berupa data/teks/suara/gambar menjadi elektronis pulsa kembali ke pesan berupa data/teks/suara/gambar--, Internet diibaratkan sebagai jalan tol tingkat tinggi atau Superhigway.

Berangkat dari konsep peristilahan jalan raya bebas hambatan itulah, Internet dalam sajian informasinya memiliki berbagai keragaman seperti halnya kawasan lalu-lintas yang memiliki kawasan hiburan -dalam Internet disebut juga cyberfun--, jaringan gereja Katholik (ChatolicNet), jaringan informasi Islam (IslamNet), jaringan informasi berita media massa dunia (NewsWork) hingga jaringan informasi pornografi (cyberporn).

Selain itu, Internet disebut juga sebagai Cyberspace karena memiliki jaringan komunikasi ibarat di dunia maya. Sedangkan, para pemakai Internet mendapat julukan Netter (pemakai jaringan), Surfer (peselancar/penjelajah), dan sejumlah sebutan nama lainnya. Kemudian, Internet sebagai hasil temuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dunia informasi kian menemukan jalannya sebagai produk bisnis karena memiliki banyak keunggulan, terutama dari segi efisiensi biaya dan efektivitas penyampaian pesan yang cepat, serta dapat menembus ruang sekaligus waktu. Dalam hal inilah, Internet menemukan kelebihannya sebagai media anti-sensor.

Dunia bisnis informasi yang berkembang didukung oleh persaingan berbagai perusahaansistem jaringan piranti lunak (software) dan piranti keras (hardware) komputer, pada medio 1996 melahirkan apa yang dikenal sebagai Internet-Intranet-Extranet. Dengan kata lain, Internet secara sistem, manfaat, dan dampaknya semakin meluas sebagai jaringan yang terbuka, eksklusif, atau justru super-eksklusif dengan nilai bisnis.

Bisnis informasi semacam itulah yang sebenarnya sejak awal 1990-an telah menjadi kajian banyak media massa di dunia -dunia pers Indonesia terlihat baru mengincarnya di tahun 1995, sejalan dengan maraknya Internet Service Provider (ISP) nasional-sebagai salah satu peluang menjangkau pasar masyarakat dunia.

Pada dasarnya, Internet, Intranet, dan Extranet tidak memiliki perbedaan yang mendasar dari segi teknik. Hanya saja, ketiga teknologi informasi tersebut memiliki perbedaan dari segi konfigurasi cakupan pemanfaatannya.

Internet lebih bersifat umum, yakni merupakan jaringan komputer global yang menjadi dasar sistem Intranet dan Extranet. Sedangkan, Intranet merupakan konfigurasinya diatur  menjadi lebih eksklusif , dan biasanya digunakan oleh satu perusahaan yang menginginkan jaringan komputernya dapat terhubung dengan Internet, namun memiliki pengaman khusus yang biasa disebut firewall agar pihak di luar sistem komputer perusahaan bersangkutan tidak dapat mengetahui kondisi internalnya.

Sementara itu, Extranet sistem dasarnya sama dengan Internet, hanya saja cakupan pemanfaatannya lebih sering digunakan oleh perusahaan multi-nasional yang ingin menerapkan jaringan komputer yang dapat terkoneksi dengan Internet secara luas, tetapi pihak di luar jaringan multi-nasional itu tidak dapat menembusnya.

Dalam media massa, teknologi informasi semacam ini dipadukan sesuai dengan kebutuhan bisnis informasi yang dilayaninya. Sebagai contoh, Kantor Berita Transnasional semacam Reuters, AFP, dan DPA menerapkan Extranet dalam jaringan internalnya, karena masing-masing kantor berita tersebut memiliki cabang mancanegara.

Namun, secara eksklusif mereka mengamankan sistem jaringan tersebut (Intranet) agar tidak setiap pemakai Internet yang terbuka dapat menembus sistem internal kantor berita bersangkutan. Hanya saja, sejumlah kantor berita tersebut tetap memiliki tayangan yang dinamakan homepage dalam layanan Internet secara terbuka.

Penempatan konfigurasi cakupan sistem teknologi informasi tersebut secara umum ditentukan oleh visi dan misi organisasi bisnis yang memanfaatkannya. Namun, Internet-Intranet-Extranet memiliki fasilitas dasar yang sama dalam proses pengoperasiannya. (Priyambodo RH, Direktur Eksekutif LPDS Jakarta).

(Sumber: Priyambodo)
Read 1202 times
Rate this item
(1 Vote)
Published in Dokter News
Login to post comments
  • Dokter News
  • Citizen Journalism

Galleries

 
Phinisinews, Kian tergerusnya nilai dan tradisi lokal dalam gaya berbusana masyarakat agaknya menimbulkan kegelisahan...
Penulis : Nurjannah   Makassar - Phinisinews, Penghargaan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Award tahun 2016...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, PT. Pertamina (Persero) menantang technopreneur muda beradu inovasi ...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar gelar Seminar...

Get connected with Us