Simak juga
Ruwat Mata Air, Rawat Bumi Lestari - Saturday, 29 July 2017 15:15
Malam Award KPID Sulawesi Selatan - Saturday, 03 December 2016 21:39
Nikmati Keindahan Makassar Sky Line City View - Tuesday, 15 November 2016 12:34
Pemuda Sehat Pemuda Berdaulat - Friday, 28 October 2016 11:10
Aksi Teaterikal Sumpah Pemuda Unismuh - Friday, 28 October 2016 09:41
Dg. Ical : Mengaku Pemuda Tapi Tak Komitmen - Thursday, 27 October 2016 18:55
Dua Wakil Deklarasi Anti Narkoba - Thursday, 27 October 2016 17:34
Ilmu Komunikasi UIT Kunjungi Media - Thursday, 27 October 2016 13:42

Bagaimana para perekrut kerja memata-matai Anda di Facebook

Phinisinews - Media sosial seperti Facebook adalah tempat ideal bagi para perekrut untuk melihat kandidat. Tetapi apakah alat yang bagus itu membiarkan perusahaan melakukan diskriminasi?

Hampir empat bulan lalu, Lisa Dorahay menelusuri Facebook ketika dia melihat iklan lowongan kerja di newsfeed-nya.
Dia tidak terlalu ingin mencari pekerjaan baru dan sangat jarang ibu tiga anak ini menggunakan media sosial. Tetapi iklan mencari asisten paruh waktu di agen rekrutmen tampak sempurna untuknya.


Dia mengikuti tautan itu untuk mendaftar dan diwawancara tiga hari setelahnya, lalu mendapat kerja di Zealand agency, Human Connection Group di pekan selanjutnya.

Dorahay kini menyadari bahwa iklan itu secara khusus memang menyasar orang seperti dia.

Iklan Facebook bukanlah fenomena baru - Anda pasti juga bisa melihat iklan semacam itu di lini masa Anda.

Tetapi Anda pasti juga melihat ada iklan lowongan kerja untuk peran dan industri yang jauh dari kerja Anda saat ini.

Tampaknya, ini di sengaja karena para perekrut ingin mencari orang yang memiliki keahlian spesifik, berdasarkan informasi yang Facebook pelajari dari perilaku Anda di media sosial itu.

Ketika lebih banyak perekrut kerja menggunakan alat ini, sejumlah orang khawatir bahwa kemampuan membidik target dengan tajam ini bisa membuat perekrut mendiskriminasi usia, etnis, agama, dan gender.

Ketika BBC Capital mengontak Facebook, mereka menolak untuk berkomentar terkait praktik perekrutan dalam platform itu.

Cara kerjanya seperti ini: layanan iklan Facebook adalah layanan yang memungkinkan bisnis membayar untuk memasang iklan dinewsfeed orang-orang.

Ketika menempatkan iklan, bisnis bisa memilih tipe orang yang mereka inginkan, berdasarkan usia, jenis kelamin, kesukaan, ras, agama, dan lainnya.

Facebook bukan satu-satunya media sosial yang menyediakan iklan dengan target spesifik - banyak platform mengkoleksi data dari penggunanya dan menawarkan layanan yang sama.

Misalnya, Google+ dan Instagram yang dimiliki Facebook juga menawarkan layanan yang sama, sementara LinkedIn memungkinkan perekrut membuat iklan spesifik berdasarkan usia, jenis kelamin, tetapi tidak bisa memilih ras atau orientasi seksual.

Miliaran kandidat potensial

Pendiri agen marketing digital berbasis di London Link Humans, Jorgen Sundberg memperkirakan 10% dari agen perekrut di Inggris (yang totalnya sekitar 20.000) kini menggunakan layanan iklan Facebook.

"Facebook memiliki data individu terbanyak, tentunya, dibandingkan perusahaan teknologi lain," katanya.
Juru bicara Facebook mengatakan perusahaan tidak bisa membagi data jumlah perekrut kerja yang menggunakan layananya, dan menolak berkomentar lebih jauh.
Dengan 1,3 juta pengguna aktif per hari, Facebook adalah tempat Anda mencari kandidat untuk berbagai macam pekerjaan, kata pendiri agen media sosial di Inggris Social-Hire, Tony Restell.


Banyaknya variasi manusia di Facebook berarti pengiklan harus lebih spesifik dan akurat terkait siapa yang mereka ingin targetkan.


Ketika mereka tidak melakukannya, pada akhirnya kita akan melihat iklan lowongan kerja yang sangat tidak relevan bagi kita.


Tetapi Facebook tidak akan diam saja jika menemukan kesalahan itu, katanya.


Mereka menghadiahi pengiklan dengan penawaran harga yang lebih murah jika pengguna tertarik dengan iklan itu, dan memberi harga yang lebih mahal pada pengiklan yang iklannya tidak laku.

Hemat

Pendiri Human Connections Group dan perekrut Emily Richards kini menggunakan Facebook untuk mengisi satu dari tiga lowongan.

Lembaga perekrut kerja yang berbasis di Selandia Baru ini mengatakan dia menghabiskan US$14 atau sekitar Rp140.000 untuk menjangkau 10.000 orang, tergantung pada demografi - yang dia klaim sebagai jalan yang murah.
Tetapi para perekrut juga "sangat menyadari" bahwa kemampuan untuk menarget iklan mereka pada orang tertentu bisa menjadi sebuah bentuk diskriminasi.

"Saya pikir jika itu berada di tangan yang salah, ini bisa sangat merugikan untuk kesetaraan gender, kesetaraan ras, dan banyak hal yang kita upayakan dengan sangat keras supaya membuat itu tak terjadi," kata Richards.

'Dicari: Pria lajang. Vegetarian tidak usah melamar'

Untuk tujuan percobaan, sebagai gambaran bagaimana proses menyeleksi penerima iklan kerja terjadi, BBC Capital menguji layanan iklan kerja di Facebook.
Pertama, kita menargetkan hanya pria antara 18 hingga 25 tahun yang tinggal di New York.

Kami kemudian meniadakan (mengeluarkan) semua pria yang sudah menjadi orang tua atau memiliki pasangan. Seseorang bahkan bisa dikeluarkan hanya karena rasnya.
Kami lalu membuang kumpulan vegan, vegetarian, dan pria yang suka cokelat.

Audiens yang kami saring dengan super ketat itu akan diberikan iklan lowongan 'Bintang Media Sosial' dan segera akan disetujui oleh Facebook dan siap diluncurkan - kepada 430.000 pria muda, lajang, tanpa anak, dan pemakan daging.
Davida Perry, dari firma hukum di New York, Schwartz & Perry, mengatakan menarget kandidat untuk lowongan kerja menggunakan iklan Facebook bisa melanggar sejumlah aturan hukum.


Iklan yang sengaja ditargetkan pada audiens tertentu punya sisi gelap, tapi juga punya kelebihan.


Di Amerika, hukum federal terkait hak asasi manusia melarang proses perekrutan yang menndiskriminasi usia, ras, agama, gender, kehamilan, kebutuhan khusus, dan orientasi seksual.

Di Inggris, ilegal untuk mendiskriminasi ketika proses perekrutan dilakukan berdasarkan usia, gender, kehamilan, seksualitas, agama, atau status perkawinan.

Iklan Anda bisa menjadi bentuk diskriminasi bahkan jika Anda mengiklankan sebuah pekerjaan di majalah khusus pria.

Jadi meskipun iklan bertarget itu mungkin tidak terasa diskriminatif, proses menargetkan iklan itu untuk beberapa orang saja dan tidak untuk orang lain tetap bisa dikategorikan sebagai diskriminasi.

Tapi, meski proses yang digunakan untuk memasang iklan bisa jadi ilegal, berbagai kasus "kegagalan dalam proses perekrutan" ini "sangat, sangat sulit untuk dibuktikan", kata Perry.

"Membuktikan diskriminasi terhadap seseorang dalam lingkungan kerja saja sudah terasa cukup sulit."

Tapi, kata dia, jika perekrut mempublikasikan penargetan yang mereka lakukan, itu bisa membuka peluang bagi mereka diberikan sanksi sesuai hukum, entah dalam bentuk denda atau perintah pengadilan.

 

Kebijakan iklan Facebook menyatakan iklan "tidak harus menggunakan opsi penargetan untuk mendiskriminasikan, melecehkan, memprovokasi, atau meremehkan pengguna", dan pengiklan di Facebook wajib memastikan iklan mereka mematuhi hukum.

Facebook menolak berkomentar tentang praktik perekrutan yang ditargetkan pada platform mereka.

 

Upaya untuk kebaikan

 

Meskipun ada risiko, spesialis rekrutmen online mengajak masyarakat untuk tidak berpikir yang terburuk.

Sundberg dari Link Humans menggunakan analogi 'the force (kekuatan)' dalam film Star Wars: iklan yang ditargetkan dapat digunakan oleh sisi gelap, tetapi mereka juga dapat digunakan untuk kebaikan.

"Selalu ada pemain nakal di luar sana, tapi secara keseluruhan itu semua legit. Jika Anda seorang perekrut atau agen perekrut semua orang berteriak untuk keragaman, jadi saya tidak melihat alasan valid mengapa Anda harus menggunakannya untuk melakukan diskriminasi."

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul How recruiters are stalking you on Facebook. 

Read 208 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Feature
Login to post comments
  • Dokter News
  • Citizen Journalism

Galleries

 
Phinisinews, Kian tergerusnya nilai dan tradisi lokal dalam gaya berbusana masyarakat agaknya menimbulkan kegelisahan...
Penulis : Nurjannah   Makassar - Phinisinews, Penghargaan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Award tahun 2016...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, PT. Pertamina (Persero) menantang technopreneur muda beradu inovasi ...
Penulis : M. Arifandy Makassar - Phinisinews, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar gelar Seminar...

Get connected with Us